personil tetap.hahhahaa

Apa perlu gw tegasin lagiiiiiiiiiiiiiii.
Ini tentang gw aja c, gak tau dengan orang lain. Kalo gw, seperti yang pernah gw bilang, gw percaya, orang yang lakuin sesuatu itu bukan karena gak beralasan. Tapiiiiii, memang gak setiap orang bisa kemukakan alasannya. Jadi pliz, gak usah ngejudge seseorang sperti ini itu..
Misalnya aja, presiden memutuskan untuk menurunkan harga BBM, itu bukan berarti tanpa alasan. Pasti ada alasannya. Pasti banyak pertimbangannya. Walo pun dosen Manajemen Keuangan gw bilang, penurunan harga BBM sebenernya bukan hal yang baik bagi perekonomian. Tapi gw percaya pasti udah dipertimbangkan kok, pasti ada alasannya bisa sampe turunin harga BBM.
Bukan hanya presiden, siapa pun orangnya yang membuat keputusan, membuat suatu kebijakan, pasti punya berbagai pertimbangan dibalik keputusannya. Masa iyah maen sembarang ambil keputusan ajah tanpa pertimbangan, emang orang idiot apa??
Sama seperti dalam pertemanan misalnya, kalo aja misal ada acara, tapi salah seorang temen gak bisa ikut, dia gak ikut bukan dengan tidak beralasan. Gw yakin pasti ada. Itu gw siiii, orang lain c pendapatnya ya terserah. Bebas kok berpendapat. Tapi kalo gw yakin, dia punya alasan. Dia punya pertimbangan. Bisa pertimbangan itu bukan hanya dilihat dari sisi pertemanan aja, tapi dari sisi keluarga misalnya, dari sisi waktu (misal udah duluan ada janji), dari sisi finance (gak punya duit misalnya), dan dari sisi lain-lainnya misalnya. Dia mampu mempertimbangkan ituuuuuu. Kalau memang sudah dipikirkan tapi tetep gak bisa ikut, apa harus tetap dipaksakan?? Bukankah sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik dampaknya? Dan mungkin dia gak bisa kemukakan alasannya. Karena tiap orang punya privasi kaan. Hargain itu.
Kalo emang niat, pasti bisa. Gimana dengan kalimat itu??
Misal tu orang udah niat banget pengen ikut sama acara kita. Tapi misal orang tua gak kasih izin, maw gimana? Bukan dia yang gak maw, tapi gak bisa. Gak maw dengan gak bisa itu berbedaaaaaa. Bukan dia gak sayang temen-temennya, bukan dia gak hargain temen-temennya, tapi dia juga sadar, restu Allah ada pada restu orang tua. Dia mampu mempertimbangkan hal-hal seperti itu. (yah mungkin karena temen yang lain dapet izin, jadi gak kepikiran kesitu kaliiiiiiiiiiiiii).
Sekarang, kenapa gak kita aja yang mencoba buat berpikiran positif? Atau cobalah mengerti (kayak lagu peterpan.hehee). Kita bisa berpikiran luas. Kita bisa berpandangan luas. Kita bisa apa aja. Termasuk gak berpikiran dangkal. Termasuk gak asal ngejudge orang lain seperti ini itu. Walopun memang gak ngejudge, seenggaknya buka deh pikiran, terima keputusannya. Bukankah jika ingin dihargai maka harus menghargai orang lain dulu? Maka hargai yang sudah jadi keputusannya. Sesulit itukah menerima keputusannya? Toh bukan dia gak mau, tapi gak bisa.
Dari kecil, bareng temen, gw belajar mengerti bersama. Belajar bijak bersama (orang bijak itu yang bayar pajak.hehee..). Belajar menerima bersama. Belajar berdiri bersama. Belajar mengejar bersama. Jadi kenapa enggak, kalo sekarang, kita belajar membuka pandangan bersama. Melihat sesuatu bukan hanya dari satu sisi aja. Gw juga masih belajar kok dengan hal itu. Gw kan memang bukan anak cerdas yang mampu mengatasi segala hal. Maka gw masih terus belajar buat bisa ini buat bisa itu.
Saat menghibur teman yang abis kecelakaan, gw bilang gw ngerti perasaannya, itu boong. Sulit sekali percaya rasanya, saat seseorang mengatakan mengerti akan keadaan orang lain, kalau ia belum pernah ada diposisinya.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar