kapten sebelas

July 21, 2008 [pindahan]





Aku sedikit lupa namanya. Tidak, barangkali aku hanya berusaha melupakan namanya. Dia adalah seorang kapten bernomor punggung sebelas. Tepatnya dia adalah seorang kapten dalam lapangan hatiku. Sudah beberapa waktu lalu. Hanya karena ada banyak pikirannya yang jarang aku mengerti. Bisa berlari sejauh apa pun, bisa bertahan dalam jarak sejauh apa pun, tapi aku tak pernah bisa, karena aku jarang sekali bersahabat dengan jarak, jarak itu memisahkan. Dan termasuk dengan pikiran anehnya tentang sebuah keputusan yang sulit sekali diterima teman-teman satu tim. Aku ingat ternyata sudah satu tahun lewat, dua musim tanpanya. Aku hanya sedang menyangkal bahwa aku masih saja mengingatnya. Karena pasti ingat juga bahwa aku yang telah mendepaknya keluar dari lapang hatiku sebagai seorang kapten. Dan aku terus saja berusaha menyangkal bahwa aku tak pernah lagi ingat apa-apa tentangnya. Meski pada nyatanya di otakku masih saja ada namanya. Memang ada satu yang paling aku ingat,

Aku : kenapa pilih sebelas?

Dia : emang kenapa? Kalo gak suka aku bisa ganti nomor punggung,

Aku : gak gitu, aku kan tanya alesan kenapa pake nomor punggung sebelas..

Dia : karena sebelas itu berarti kita,

Aku : kok bisa?

Dia : karena sebelas adalah kita, satu aku, satu kamu..

Ya, sedikit percakapan dari jutaan kata yang pernah kami lontarkan satu sama lain. Dari detikan waktu yang pernah kami lewati.

Dan dari jutaan kata serta detikan waktu itulah aku banyak belajar darinya,

saat dia gagal bikin gol,,

menyadarkan aku kalau Allah hanya kasih yang terbaik buat diri kita..

saat dia bawa bola,,

menyadarkan aku betapa kita harus jaga apa yang udah Allah kasih..

saat dia merebut bola,,

menyadarkan aku betapa kita nggak bisa dapetin apa yang kita mau tanpa usaha..

saat dia bikin gol,,

menyadarkan aku ‘apa yang nggak Allah kasih buat kita?’

menjadikanku memiliki segudang mimpi sekaligus semangat untuk meraihnya. Menjadikanku mau terus belajar dan mengenal dunia. Menjadikanku bisa melihat lebih luas akan apa-apa, dan peka terhadap sekitarku. Menjadikanku lebih penuh syukur, termasuk bersyukur pernah memilikinya. Karena ternyata saat ini, dirinya telah menjadi salah satu yang berarti. Atau mungkin memang karena ‘sesuatu baru terasa bermakna setelah lepas dari genggaman’? aku hanya ingin melihatnya sekali lagi. Namun otakku tak mendengar kata hatiku, ia terus saja diam tanpa memerintah kakiku untuk pergi dari sini, sebentar saja, untuk kembali dan menemuinya. Aku mungkin hanya sesaat sedang mengingatnya.

Aku selalu berusaha mempertahankan pagar hatiku. Agar rasa sesal tak bisa masuk ke dalamnya, karena sungguh, aku tak pernah ingin merasakannya, meski sekali dalam hidupku. Meski hanya berusaha. Meski pada kenyataannya beberapa kali tak memenangkannya. Dan kembali tersadar bahwa ini semua adalah pertandingan. Jika aku pernah kalah, berarti suatu saat akan memenangkannya. Hidup adalah pertandingan bukan, maka jika kita lelah berlatih berarti tak pernah ingin menang. Dan jika pernah melewati sebuah kesempatan emas, berarti masih akan ada banyak setelahnya.

Dan kini, satu lagi yang aku ingat akan perkataannya; “mengontrol bola sama dengan memberi kesempatan pada lawan. Shoot sekarang, atau gagal dan tunggu seratus tahun lagi atau bahkan lebih untuk dapatkan kesempatan yang sama.”

Dan sekali lagi itu menyadarkan aku tentang hidup akan sebuah pilihan. Dan menghasilkan pikiran; orang-orang benar bahwa hidup penuh pilihan dan harus memilih. Tapi, jika kita bisa memilih satu, maka kita juga bisa memilih dua, tiga, atau banyak pilihan lainnya termasuk sebelas. Atau apa pun. Namun ternyata, tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan.

Aku begitu mengenalnya, dan saat ini berharap bisa menemukan kapten sebelas lain. Bukan hanya untuk meramaikan lapangan hatiku dengan jugglingnya, pinaltinya, dribblenya, atau permainan cantiknya. Bukan hanya sekedar itu. Tapi untuk menjaga lapangan ini, dari pencuri, karena sekarang begitu sepi, dan aku hampir ketakutan karena kesepian itu.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar