dengarkan aku, ayah.

Ayah, aku menyayangi lelaki lain selain engkau dan adikku. Lelaki itu pernah berujar bahwa ia menyayangi aku. Keras hati aku ayah, sungguh sudah dengan sekeras hatiku untuk tak menghiraukannya. Tapi nyatanya ia mampu mengalahkan hatiku, aku menyayanginya. Tapi dikemudian hari ia selalu bilang bahwa ia tak pantas untukku, tanpa memberi alasan. Ingin aku bertanya padamu, ayah. Apa yang harus aku lakukan? Ketika aku sudah dengan keras hati meyakinkannya bahwa ini salah, namun ia meyakinkanku bahwa tak ada yang salah karena rasa sayang datangnya dari Allah, itu yang ia katakan. Membuat aku bertahan, membuat aku menguatkan patrian ini.

Ayah, aku masih menyayanginya. Bahkan ketika suatu hari ia jujur, kenapa ia tak pantas untukku. Saat itu rasanya aku ingin engkau ada di sampingku, ayah. Karena tulangku rasanya sudah remuk, kualitas pompa jantungku melemah, semuanya menjadi tidak berfungsi kecuali kelenjar airmataku yang masih mampu hasilkan airmata. Aku hancur, ayah. Bukan karena menyesal telah menyayanginya, tapi karena ini menyakitkan. Sangat menyakitkan. Bahkan aku menyadari tak berkurang sayangku untuknya meski tau apa kenyataannya. Menyayanginya. Kelembutannya, kepintarannya, humorisnya, sifat juangnya yang sepertimu, bahkan keidealisannya. Tapi sekarang aku harus apa, ayah?

Ayah, kepalaku sakit ketika terus-terusan menangis, bahkan hingga detik ini saat aku sedang berbicara denganmu melalui gerak jariku pada keyboard. Hati aku lebih sakit, ayah. Kenapa ia membuat aku seperti ini. Ia bilang akan berusaha menjaga, merawat dan membiarkan tumbuh apa yang sudah ia tanam bersamaku, rasa ini. Tapi kenyataannya ia tak melakukan itu. Ia bilang, kalau Allah hanya mengizinkan kami untuk hanya saling sayang, tanpa saling memiliki, aku harus tetap kuat. Tanpa ia sadar, ia sudah lebih dulu melemahkan aku. Aku tak menyalahkannya, ayah. Karena mungkin memang aku yang tak sekuat ombak yang mampu mengalahkan karang, seperti dulu. Lagi-lagi aku ingin bertanya, aku harus bagaimana, ayah? Ketika rasaku sudah kuat, ini tak mudah untuk aku hilangkan.

Ayah, pernah aku berpikir, sebaiknya aku mengizinkan Sambu membuat ia lebam-lebam dan patah tulang. Tapi hati aku tak pernah mengizinkannya. Aku menyayanginya. Sampai detik ini. Entah sampai kapan. Entah mengapa.



.

4 komentar pembaca:

erina.yuliana mengatakan...

tau ga? gw pernah berpikiran ky org yg lo critain..
pergi mungkin bakal bikin orang yg gw sayang lebih baik.. tapi nyatanya, dia sendiri yg bilang kalo dia akan jauh lebih buruk kalo gw pergi..
kalo dia bisa nerima hal yg menurut gw ga pantes, knp gw masih ngerasa ga pantes? kalo dia bisa terima masalahnya selesai.. semua orang punya salah, dan punya hak untuk memperbaikinya..

kartika diah mengatakan...

semua orang punya salah, dan punya hak untuk memperbaikinya..
tapi ternyata masih saja ada orang yang tetap merasa gak pantes, mempertahankan idealisnya. pribadi gw bisa memaafkan dy, sangat bisa. tapi keidealisannya sendiri yg membuatnya tetap bertahan merasa gak pantas.

Anonim mengatakan...

sampai saat ini sebelum dan sesudah mengenal kamu, dengan apa yang aku alami. aku tetap meyakini kalo jodoh ditangan tuhan.

kartika diah mengatakan...

jodoh dan rizky itu takdir yg berbeda dg kematian. manusia memang konseptor, karena Allah yang menentukan. tapi apa yg Allah beri adalah sesuai dengan sejauh mana manusia berikhtiar, itu untuk jodoh dan rizky.. baik2 yaa, jaga kesehatan..

Poskan Komentar