ilmu baru lagi. syenang!!

seneng banget waktu kemarin temen dateng, ngobrol ksana-ksini dan pasti selalu ada ilmu yang ia sampaikan. jadi nambah deh ilmu aku. kita bicara tentang apa aja yang pengen kita obrolin. waktu itu tiba-tiba nyambung ke obrolan tentang anak. jadi pada umur tertentu, anak cenderung lebih menerima jika diberikan pendidikan tentang bahasa. baru setelah umur berapa, seorang anak bisa menerima jika diberikan pendidikan tentang aritmatik (matematika/angka). sebenarnya, pada awal umur anak, seorang anak bisa saja menerima pelajaran matematika, tapi nantinya pada umur berapa (aku lupa) ia jadi kenapaaaa gituuu (aku lupa lagi). hehehee ya intinya yang aku tangkep adalah seorang anak pada usia dini, didahulukan diajarkan bahasa, baru kemudian matematika.

gak lama kemudian, obrolan kita nyerempet ke masalah pernikahan (lagi), setelah memang di beberapa pertemuan sebelumnya kami sering membicarakan tentang pernikahan, suami, istri, anak, yang intinya tentang keluarga lah..
aku sampaikan ke dia kalo aku pernah baca buku yang intinya: sebenernya seorang suami lah yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, dll). tapiiiiii, karena suami juga berkewajiban untuk mencari nafkah, ia harus bekerja untuk menghidupi istri dan anaknya, hingga bisa jadi seorang suami tidak akan sempat untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga tersebut. nah, kalau begitu, maka seorang suami berkewajiban untuk menyediakan muqodim (pembantu rumah tangga) untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga (menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, dll). namun, jika misalnya seorang suami tidak mampu untuk membayar muqodim tersebut, maka seorang istri diperbolehkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut dan pahala untuk istri yang melakukan pekerjaan itu adalah setara dengan sedekah.

nah, setelah aku sampaikan ke temenku tentang apa yang aku baca, trus aku tanya sama dia: "bener gak sih kayak gitu?"

dia bilang: sebenernya bukan begitu. jadi yang namanya suami kan berkewajiban mencari nafkah untuk keluarga, ia bekerja di luar rumah untuk cari uang dan menghidupi keluarga. nah, seorang istri itu tiodak wajib mencari uang, istri cenderung lebih banyak di rumah. lazimnya, masa sih seorang istri di rumah diem aja? yah paling tidak kan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tadi disebutkan. tapiiiiiiiii, kalau misal istrinya juga bekerja, lalu bisa jadi kecapekan dan tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga (maksud disini adalah: jika tetap melakukan pekerjaan rumah tangga tersebut bisa menjadikannya sakit), maka seorang suami wajib menyediakan muqodim (pembantu rumah tangga) untuk membantu istrinya. jadi begituuuu.. tapi, untuk urusan anak, memang seorang istri lah yang lebih wajib untuk mendidik anak-anak mereka. memang suami juga memiliki porsi untuk mendidik anak-anaknya, tapi peranan terbesar dan kewajiban terbesar untuk hal tersebut adalah terletak pada seorang istri. aku setuju dengan yang itu, jadi ibu adalah induknya pendidikan (klik disini).

alhamdulillah, dapet ilmu lagi dari obrolan kita di penghujung sore hari kamis kemarin.
nah, tambahan dari aku adalah.. seorang suami juga tetap berhak kok untuk mengarahkan kegiatan istrinya. misal saja ada suami yang tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja, dan lebih senang jika istrinya stay di rumah. itu aku rasa sah saja.

naaaaaah, ilmu lain yang aku dapet adalaaaaaaaaahh..
ketika ada seorang pria yang datang melamar pada seorang wanita, mengajak menikah dan hidup bersama, maka seorang wanita memiliki hak untuk menanyakan: "setelah kita menikah, kita akan tinggal dimana?" . (misal: akan tinggal di rumah orangtua si wanita? atau si pria? atau di kota mana?). pertanyaan yang dilontarkan seorang wanita tersebut bukan bermaksud matre seperti yang dianggap kebanyakan orang. karena sebenarnya wanita membutuhkan kenyamanan dan keamanan. dan sekali lagi, pertanyaan seperti itu memang berhak diajukan seorang wanita kepada pria yang melamarnya.






.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar