sepenggal logika

“dimana logika lo yang biasanya lo pake?!”

“logika gw gak pernah ilang, lu inget ya!! Gak akan pernah ilang!” Ve dengan agak kesalnya.

”disaat lo nangis kayak gini, bisa ngadu-ngadu sama gw, minta gw berhenti kerjain paper gw demi dengerin semua cerita lo yang menurut gw udah ada jalan keluarnya, masih bisa ya lo bilang kalo logika lo masih idup! Hah?” Sambu tak ingin kalah.

”kalo emang lu gak bisa dengerin gw cerita, atau barangkali gak mau lagi dengerin gw, lu kan bisa bilang, Sam!” Ve malah jadi marah.

”apa lo pikir gw bisa, buat gak dengerin lo? Berapa kali gw bilang, sampe mati, Ve. Sampe mati gw bakalan jagain lo! Kenapa harus gw ulang-ulang sih.” Sambu menegaskan kembali apa yang pernah dikatakannya dulu. ”tapi barangkali lo yang udah terlalu pinter hingga bisa lupa sama apa yang pernah lo bilang dulu.”

Veka masih dengan isakannya. Masih duduk di tribun penonton bareng sahabatnya. Masih dengan genggamannya terhadap Sambu. Masih mencoba menghentikan kerja kelenjar airmatanya.

”Ve, bukan karna gw seneng liat lo nangis dan menyesali perubahan diri lo. Tapi gw tau lo gak kayak gini. Lo raja logika. Tapi dimana logika lo sekarang?” Sambu coba menenangkannya.

“gw gak tau, Sam. Atau barangkali gw udah berakhir dan logika gw emang udah ilang..” Ve dengan pelan.

“lo inget gak, syapa yang bikin gw bisa berhenti dari candu rokok? Syapa yang bikin gw mengerti kenapa satu ditambah satu sama dengan dua? Syapa yang bikin gw gak takut lagi kalo liat cewek nangis? Syapa yang bikin gw bisa jadi seperti kayu jati? Syapa yang bikin gw mengerti proses terjadinya air hujan dan pelangi?” kali ini Sambu lebih lembut dari sebelumnya.

Tapi Veka tetap diam. Lebih memilih melemparkan titik jatuh retinanya pada rumput lapang di penghujung sore itu. Memilih memeluk lututnya sambil menaruh dagu diatasnya. Lebih memilih mengeraskan lidahnya.

“jawab gw, Ve. Kenapa gw harus berhenti dari rokok?” Sambu tidak lelah.

“karena rokok menjadikan jantung lu buruk. Karena rokok memiliki kandungan nikotin yang gak seharusnya lu konsumsi. Dan karena apa lu mau mati sia-sia karena hal itu.” akhirnya lidahnya dapat kembali bekerja.

”Kenapa satu ditambah satu sama dengan dua, bukan empat, sepuluh atau seratus?” lanjut Sambu.

”karena kita tak akan pernah dapat merubah sunnatullah. Itu analoginya, bukan sinonimnya. Mirip seperti kenapa kita nanti akan mati, karena itu kejadian pasti yang ada dalam alquran. Satu ditambah satu sama dengan dua, itu ilmu pasti.” jawab Ve dengan yakin.

”kenapa gw gak boleh takut melihat cewek menangis?”

”karena kenapa lu mesti takut jika lu tau menangis adalah kandungan paras logam mangan dan hormon prolaktin. Karena air mata adalah hasil dari sistem saraf yang bertindak balas dengan saraf kranial dan memberi isyarat pada lakrimal. Jadi untuk apa lu takut, jika sebenarnya lu pun bisa menangis. Dan gak tega tuh gak bisa jadi alesan.”

”trus kenapa gw harus jadi kayu jati?” sambil menatap Veka.

”karena kita harus jadi sesuatu yang gak disuka sama perusak, sama penghilang manfaat, agar kita dapat terus bermanfaat. Seperti kayu jati yang tak pernah disukai rayap, dan bisa terus bermanfaat.”

”lo masih ingat gimana proses terjadinya hujan? Kenapa gw gak percaya kalo hujan adalah proses penguapan air laut semata? Bukankah selama menguap ke awan, ia akan hilang kena sinar matahari?”

”karena titik2 air laut itu tidak menghilang, tapi berubah jadi gas. Kalo gak salah namanya kesetimbangan fase. Ini diperkuat dengan kepercayaan kita bahwa allah bisa melakukan apa saja, tidak terbatas pada jarak air laut dan awan.”

”dan lo masih ingat gimana proses terjadinya pelangi?”

“pelangi terjadi karena pembiasan cahaya matahari yang warnanya bukan cuma satu, dengan titik-titik air hujan. Cuma bisa terjadi kalau ada air hujan dan matahari. Semua itu ada teorinya.” Ve masih fasih berkata. Dan kini ternyata, tangisnya sudah hilang.

“lo masih idup, Ve. Masih bisa dengan lancarnya jawab pertanyaan-pertanyaan gw. Masih mampu mengingat semua jawaban dengan dasar logika lo.” Sambu tersenyum. “dan sekarang logika gw bilang, gw rasa lo masih mampu kok buat senyum.”

“hmmm.....” Ve malah masih cemberut.

“lo inget sama perjanjian(*) kita kan? Inget kan, ingkar janji itu ciri-ciri orang munafik?” Sambu terlihat sangat yakin sekali dengan perkataannya.

”susah kali, Sam! Jangan sekarang deh!” katanya setengah kesal.

”ayolah Ve..” Sambu dengan nada setengah memohon.

Veka lalu dengan pasti tersenyum sebanyak lima kali.

”tapi sekarang gw sadar, lo gak perlu takut buat kehilangan logika lo ya! Karena memang cinta gak pernah sama dengan logika. Saat lo mencintai bokap nyokap lo, memang sulit untuk diterangkan secara logika kenapa lo bisa mencintai mereka. Karena mereka sudah ada sejak lo lahir gitu? Trus kenapa lo gak cinta juga sama orangtua lain yang juga sudah ada sejak lo lahir?? Itu sesuatu yang gak bisa dijelasin dengan logika, tapi isi hati yang udah yakin. Dan gw juga tau, dari dulu yang namanya logika emang selalu musuhan sama cinta. Jadi kalo lo terus-terusan pertahanin logika lo, kapan lo jatuh cinta dong??” kata Sambu sambil tertawa. Dan Veka tersenyum makin lebar.





(*) perjanjian Veka dan Sambu. Kalo nangis berarti mengurangi lima hari umur. Kalo senyum berarti menambah satu hari umur. Jadi kalo gak mau umurnya berkurang, jangan nangis. Atau kalo nangis, harus dibayar dengan senyum. Perbandingannya 1:5 .


.

2 komentar pembaca:

kabutaku mengatakan...

ta, maafin aku yang dah nyakitin kamu tadi sore.

aku, masih menunggu jalan yang allah kasih ketika aku sudah berdoa dan berusaha. gak bisa ditebak tuhan ngasih jalan seperti apa buat aku, yakin dengan apa yang allah kasih ke aku itu pasti yng terbaiak tapi ketakutan untuk hal terburuk pasti ada. entah allah akan memberikan jalan buat aku untuk merawat apa yang dah aku tanem bersama kamu atau kah aku tetap dengan keadaan yang seperti ini. tita, apa pun yang terjadi tetap tawakal ya, jangan kecewa dengan keadaan yang menurut tita buruk.

tita, pasti ngerti pesan yang aku sampein ya.

kartika diah mengatakan...

sudah di jawab sayang, kemarin..
tetep sabar kan !
semangattt! cheers....

Poskan Komentar