samudera pun terkalahkan

ayah: mba, UAS nya kapan? Nanti kalo pulang BT nya jangan lupa dibawa ya.

anak: aku UAS jadwal trakhir tanggal 15 pa, tapi belum tau maw pulang tanggal brapa..

ayah: oke, dipersiapkan UAS nya yaa,

anak: beres boz. Hehe. Ohya pa, aku boleh gak minta duit 150rb buat ujian k****e. Maaf mrepotkan,

ayah: siap. Kapan diperlukan?

anak: daftarnya trakhir tanggal 15 bulan ini. Stelah daftar baru bisa isi formulir truz dapet kartu ujian pa..

ayah: oke, pakai aja duitnya. Nanti bpk kirim ok.

anak: oke, makasi ya pa.. Ohya pa, maaf'n aku sering ngecewain bpk yaa.

ayah: bpk+mama gak pernah kecewa. Oke. Selamat berjuang.

anak: makasi buat supportnya yaa..



Allahuakbar..
Allahurahman..
Allahurrahim..
Dhuha hari ini aku bersyukur sekali padamu ya Allah.. Alhamdulillah, makasi ya Allah untuk nikmat kesehatan yang Engkau beri untuk kami. Makasi untuk segalanya. Makasi uda kasih aku orangtua yang luar biasa. Begitu luas hatinya menerima segala kekuranganku. Ia mengatakan bahwa mereka tak pernah kecewa padaku. How can??? Aku tak pernah mendapat peringkat satu selama ini kecuali di madrasah dulu. Aku tak pernah ikut olimpiade matematika. Aku tak pernah membuat moderator menyebutkan namanya karena aku tak pernah masuk 3 besar dalam kelas. Tapi beliau tak pernah kecewa padaku. Maha Besar Engkau ya Rabb, yang menciptakan hatinya lebih luas dari samudera.

Kalau beberapa waktu lalu ada yang berujar padaku bahwa ayahku hebat. Dan setelah kutanya alasannya adalah karena beliau berhasil mendidikku. How can???
Well, jika diibaratkan aku adalah sebuah produk dan ayahku adalah mesinnya. Ya memang ia adalah mesin paling canggih yang pernah ada, tapi produk inilah yang tak pernah sebaik harapan.
Aku masih sangat bodoh, masih sangat butuh banyak belajar, masih selalu butuh menimba ilmu dari banyak sumber. Rasanya aneh kalau mendengar katanya ayahku berhasil mendidikku. Ini bukan masalah ayah, tapi aku. Rasanya aku masih sangat jauh untuk dikatakan sebagai sebuah produk yang berhasil. Jika ayahku hebat, itu memang sudah pasti. Lalu aku, adalah produk yang belum perfect meski sudah sedemikian canggihnya ayahku dalam mendidik aku. Ini permasalahan aku yang sebenernya masih jauh dari level tersebut.

Dan aku selalu butuh support. Selalu membutuhkan orang-orang sabar seperti mama yang bersedia mengingatkan aku untuk belajar. Selalu butuh orang-orang ikhlas yang bersedia aku jadikan recycle. Selalu butuh orang-orang berhati besar seperti ayah yang mampu membuatku bisa bertahan meski alasanku untuk menuntut ilmu telah berkurang dua. Dan yang hanya tinggal satu inilah alasan terbesarku untuk tetap bertahan. Yang satu inilah yang harus aku bahagiakan kelak, karena ia sangat berarti.

Terima kasih ya Rabb, telah begitu banyak memberi nikmat pada kami..

Beberapa jam kemudian saat dzuhur menjelang ashar;
ayah: mba, bpk sudah kirim uang nya 200rb yaa..
anak: sip, makasih ya pa..






[ashar, 5 june 2010]


.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar