Dear You. Yess, You.

dulu, beberapa diantara mereka bilang bahwa kamu akan menghalangi aku untuk meraih mimpi-mimpiku. dulu kemudian aku bertanya, apa mungkin orang yang mengaku sayang dengan kita akan bisa melakukan hal semacam itu. tapi lantas aku tau, kamu ingin aku menjadi besar. kamu ingin aku keluar dari kenyamanan selama ini, pergi dari kota itu dan berlari kencang. akalku benar saat itu, bahwa kamu benar, aku harus ber-apaapa untuk tidak melulu berada dalam satu lingkaran kenyamanan yang disitu-situ saja. ditengah aku yang sepertiga hancur karena kenakalanku berani bermain dengan takdir, kata-katamu benar. aku mendadak ingin segera mengucap ikrar keprofesianku saat itu. tidak sabar ingin segera berlari di track yang lebih menantang, melihat dan menjamah dunia yang begitu luas. menghitung jam dan warna kartu. sampai akhirnya Allah ingetin aku, dibalik semua kata orang, dibalik semua semangat yang datang dari penjuru mata angin, ada doa yang gak pernah henti yang mama dan bapak selalu panjatkan untuk aku.

sekarang, entah apa yang ada di kepala batumu. atau memang aku yang sejak dulu salah, merasa paham dengan isi kepalamu. dulu aku menulis banyaaaaakkk sekali list berisi apa saja mimpi yang akan kita raih nanti. aku menulis semuanya, mulai dari judul dan target waktu, semua. aku menempelnya di dinding kamar agar semangat membunuh waktu dan segera mewujudkannya, dengan kamu. sekarang aku tau, bukan kamu yang akan bisa merubah kartu biruku menjadi kartu cantik berwarna kuning. bukan kamu yang akan mengantarkan aku meraih sertifikasi atau angka keramat yang disebut license. karena kamu terlalu sibuk dengan sesuatu yang kamu sebut passion, yang sepahamku sebuah passion tidak akan mematikan sesuatu yang lain termasuk hati. atau memang karena ada sumber semangat lain yang jauh lebih besar dari aku, yang belakangan ini aku tau siapa namanya. semoga sukses, kamu.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar