yayaya

kalau untuk menenangkanmu, aku harus sakit, harus meredam apa yang menjadi citacita setelah sekian lama engkau memintaku menjalani ini, doakan aku ikhlas.
jangan minta maaf, bukan maaf seperti yang tadi kau ucapkan yang aku mau. selamanya kau tak akan pernah salah, sungguh. karena aku cuma ingin kau tau, doamu akan selalu didengarNya, seberapapun jauhnya aku darimu.
kalau dulu kau pernah bilang, jarak menjadi masalah karena ada satuannya. mm, cm, km, atau apapun. membuatnya terasa semakin berjarak. tapi tidakkah kau ingat, katamu,  sekalipun tak menatap selalu bisa kau mengingat dan mendoakan aku.
tidak apa, ini bukan airmata amarahku. dua puluh tiga tahun aku mencintaimu, dan akan menjadi seratus tahun bahkan selamanya. aku mengalah, terasa sedikit sakit, tapi tidak akan secuil pun melunturkan sayangku untukmu. pastilah tidak sesakit yang kau rasa jika aku bandel.
selamat tinggal 21sept, selamat tinggal mimpi. semoga menjadi pembuka jalan bagi mimpi dan sesuatu yang lebih baik. tita ikut maunya Allah.
bukankah segala akan tetap bagus jika kita mampu bersyukur? alhamdulillah...

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar