sepenggal


"mengapa engkau begitu berkeras?" begitu tanyamu dalam mohonku.
"tidakkah engkau ingat ini mimpiku? aku mohon..." pintaku sekali lagi.
"tidak." katamu tegas.
"bukankah saat aku ingin menjadi kapten, engkau memintaku untuk menjadi jendral?"
"bukan begini caranya." jawabmu singkat sebelum aku selesai bicara.
"lantas?" sambil tatapku penuh harap. tapi engkau diam, seolah tidak ada lagi yang perlu aku pertanyakan atau engkau jawab. seolah beberapa kalimatmu harus aku telan mentah-mentah. "aku mohon..." kataku lagi. "kau tau, tidak banyak yang seberani aku mengambil resiko ini. aku berani, untuk itu aku pasti berusaha keras. ya?" rayuku sekali lagi tak bosan.
"tidak disana." katamu singkat, sesingkat waktu menelan mimpiku dan memprosesnya dalam lambung. tercabik kemudian hancur. tak bersisa, tidak pernah ada lagi.
"begitu?" tanyaku sedih. kau bahkan tak mampu melihat mataku. aku tau dengan penuh kesadaran kau hancurkan apa yang menjadi mimpiku. aku tau kau juga sedih. tapi aku tidak menangis, sama sekali tidak. "kenapa?" tanyaku lagi, semakin lirih.
"aku tidak mau kau sendiri." katamu, lalu menatap ke arahku. "aku juga tidak ingin kau tinggalkan."
"tidak akan pernah, aku janji!" aku berseru. "aku tidak mungkin meninggalkanmu.." aku kembali pelan. "kau tau, aku mencintaimu sejak aku lahir. aku tidak mungkin meninggalkanmu."
"tapi aku tau yang terbaik buatmu." satu alasan lagi kau kemukakan. aku, diam. menerima. berdoa.

tidak ada lagi obrolan berat hari itu antara aku dan ayah. aku tidak pernah membahasnya lagi seharian penuh. kepalaku jadi terasa kosong, hilang segala motivasi dan semangat tinggi, sambil terus meyakinkan diri sendiri bahwa bukan ayah yang merenggut cita-citaku. aku hanya pergi ke lapang sore harinya. sore itu, Sambu bilang, "dia sayang sama lo, Ve.". itu yang paling aku ingat dari ratusan kalimatnya di tribun sore itu.

Sambu kemudian mengantarku pulang. sepanjang jalan ia terus menyanyi. suaranya jelek, sampai aku benar-benar berharap Rengga ada diantara kami saat itu. tapi Rengga sudah pergi dengan keretanya lima setengah tahun yang lalu. aku ingat seperti apa bentuk punggungnya yang terakhir kami lihat. "lo baik-baik ya!" Sambu memecah lamunanku tentang Rengga. aku menatap ke arahnya, seolah tidak ingin ia pulang. "kalo gak pengen makan, malem ini lo boleh kok gak makan." katanya ramah. "tapi besok pagi lo harus abisin sarapan yang nyokap gw bikin. dan gw janji porsinya bakalan sepuluh kali lipat dari porsi sarapan lo yang biasa." katanya begitu mantap. itu kebiasaannya, hukuman kalau aku menolak makan. Sambu biasa begitu. sering dia menghukumku dengan memaksaku tersenyum lima kali sebagai ganti satu kali aku menangis. satu kali nangis, ngurangin lima hari umur kita dan satu kali senyum bisa nambah satu hari umur kita. jadi biar impas, abis lo nangis lo harus senyum lima kali. begitu biasanya dia bilang. sampai akhirnya aku lambat laun mulai tidak cengeng.
"lo disini aja." kataku datar, Sambu menatapku bingung. "nanti gw yang bilang sama tante, lo lagi ajarin gw public speaking. yah?" aku mengeluarkan jurus andalan agar ia mengiyakan pintaku, tatapan mata yang sangat memohon.
"kan gw udah bilang, lo jangan kayak gini terus. gak selamanya gw ada." aku kaget mendengarnya. "lo kan udah gede, Ve.." tambahnya. aku berhenti memintanya tinggal. aku masuk dan langsung mandi.

malam itu, aku seperti biasa menyiapkan makan malam untuk ayah. ayah jadi lebih pendiam dari sebelumnya. aku bukan tidak ingin bicara, tapi aku takut. sungguh aku tidak ingin membahasnya lagi, aku takut ia marah. malam itu kami makan bersama, kalau tidak, keesokannya ada saja cara Sambu bisa tau aku makan atau tidak. "kita makan yuk, yah.." kataku mencoba biasa seperti hari sebelumnya, seperti biasa. dan sepanjang sisa malam itu, hanya kalimat itu yang terdengar di meja makan kami yang sederhana. selebihnya hanya suara sendok dan piring yang sesekali bersentuhan. padahal aku masih berharap ia menawariku untuk memberi izin, seperti tawarannya empat setengah tahun lalu saat aku baru selesai ujian di semester pertamaku di kampus. ia berubah pikiran dan menawariku pindah jurusan yang aku ingin. tapi aku tidak kuat melihat matanya waktu itu, juga suaranya yang tulus. akhirnya, aku menolak, bertahan di kampus dengan mengambil jurusan yang ayah pilihkan, dan berjanji dalam hati bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan harapannya.

tapi malam itu ayah terus saja diam, ia tidak berubah pikiran, tidak menawariku sesuatu yang aku suka, yang menjadi pilihanku, seperti empat setengah tahun lalu ia menawariku.

[penggalan Veka and Her Kites].

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar