sepak bola mampu menyatukan banyak hal



Siang yang terik di sabtu pekan ini. Ya, musimnya memang sedang memudahkan emosi jadi pasang surut. Tidak dengan Veka, perempuan 18 tahun yang saat itu duduk diam, nyaman duduk di tribun penonton yang keras, betah menunggui sosok tinggi kuat yang sedikit kurus, setelah akhirnya 10 menit kemudian didapatinya raga yang dinantinya, duduk disampingnya. Sudah hafal betul mereka dengan bau rumput lapang, tekstur lantai tribun, bahkan arah angin yang menyapu tiang gawang. Adalah Zura, lelaki 19 tahun yang sudah dikenalnya sejak sembilan tahun lalu, yang satu tahun terakhir memenuhi hati Ve, tanpa cela, tanpa cacat.

"aku telat lagi." kata Jula, begitu Ve memanggilnya. "udah laper ya?" lanjutnya sembari menaruh tas ransel berisi kaos tim, buku fisika, bahasa inggris, dan, matematika, sesuatu yang tak pernah ia suka.

"aku udah habisin oreo satu bungkus nih.." Ve sambil tak minat melihat pada lawan bicaranya.

"hehehee" Jula nyengir sambil keluarin isi tas nya. "baru ilang seperempat udah dibilang habis." sambil senyum. "pacarnya kapten yang jago matematika nih udah gak jago ngitung lagi ya?" becanda lagi, sambil menaruh kembali ransel kosong dipundaknya. "yuk, makan!" tangannya kini menarik tangan Ve yang saat itu ditaruh disamping duduknya.

Ve malah tidak mengiyakan ajakan Jula, menarik lepas tangannya, dan berpaling ke arah Jula, arah dimana angin bisa menyentuh pipi dan matanya. "kenapa kamu pakai nomor punggung sebelas?" Veka dengan wajah tanya.

"kok bahas ini. beneran pengen tau?" Jula balik tanya.

"tadi di kelas, Yudha bilang alesan kenapa dia pake nomor punggung sebelas." Ve mengawali ceritanya, masih sambil memerhatikan Jula. "katanya, sebelas itu artinya jadi nomor satu dari yang kesatu." Ve kini duduk lebih tegak. "alesannya klise, menurutku. Atau kamu juga punya alasan yang sama?"

"emang penting ya kamu tau alesan aku pake nomor punggung sebelas?" Jula sedikit heran.

"yaa aku tau kamu suka Giggs, tapi, barangkali kamu punya alasan lain. Seperti batu yang dilempar ke atas pasti jatuh lagi, karena ada gaya gravitasi. Atau seperti warna pelangi yang muncul, karena ada titik-titik air dan sinar matahari. Atau seperti jika mencari ukuran suatu sisi segitiga harus membagi dulu sinus terhadap cosinus, karena ilmu pasti yang akan mengantarkan kita pada suatu jawaban mutlak, pasti. Atau karena senyawa..." belum sampai penjelasannya tentang senyawa kimia, Jula berhasil menutup mulut Ve agar berhenti dengan teori-teori yang ia dapat juga di kelas, di sekolah yang berbeda dengan Ve yang sangat membosankan baginya.

"seperti ketika daun jatuh dari pohon adalah karena kehendak Allah? Karena menurut kamu, segala sesuatu terjadi demi setidaknya satu buah alasan?" Jula berhasil membuat Ve diam, namun tak menghentikan aktivitas Ve yang masih dengan seksama memperhatikannya.

Jula kemudian melanjutkan, "karena sebelas berarti kita." Jula singkat.

"kok gitu?" Ve bingung.

"iya, sebelas tuh kita. Satu aku, satunya lagi kamu." kata Jula sambil mengusap kepala Ve.

Ve cuma senyum, nyengir, meski tidak seratus persen paham dengan maksud pacarnya. "kok senyum doang?"

"gak paham!" kata Ve sambil nyengir. "tapi seenggaknya alasannya gak klise kayak yang Yudha bilang." katanya lagi kemudian tertawa.

Siang yang terik hari itu, tidak akan menjadi seteduh itu tanpa senyum yang terpendar dari salah satunya, tanpa kesabaran interaksi dari salah satunya, dan tanpa pohon rindang yang letaknya gak jauh dari tempat mereka duduk sambil mengkonsumsi O2 gratis dari sang pencipta. Apa ada yang lebih berarti bagi Zura, selain memenangkan pertandingan dan kebersamaan seperti ini tentunya, sesuatu yang tak bisa ia pungkiri, tidak ingin ia lepaskan dari hidupnya.

"kenapa kamu cinta lapangan, sampe pernah tidur di lapang waktu lagi suntuk, walaupun besoknya gak masuk sekolah krn masuk angin?" Veka kembali dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.

"siapa juga yang cinta lapangan..." kata Jula dengan enteng menjawabnya. Posisi mereka kini sama-sama menghadap ke rumput lapang.

"kenapa kamu cinta sepak bola?" Ve gak mau diam.

"dan kenapa bagi kamu, semua pertanyaan harus dijawab?"

"ya karena kalo ada pertanyaan pasti ada jawabannya. Ada suatu kalimat fakta atau entah apa namanya yang tidak diketahui sebagian orang, yang bikin orang tersebut jadi punya pertanyaan. Jadi pasti ada jawabannya." panjang lebar Ve menjelaskan demi sebuah jawaban yang hampir mutlak itu bukan materi UN sekolahnya nanti.

"karena sepak bola mampu menyatukan banyak hal." satu kalimat cukup baginya untuk menjawab pertanyaan perempuan yang disayangnya. Tapi Ve, apa pernah ia puas hanya dengan satu kalimat jawaban? Seperti halnya ia tak pernah puas dengan pencapaian-pencapaiannya yang hanya mendekati target. Tapi Zura, kapten tim Mirlos FC, paham betul dengan isi kepala Ve. "dulu, aku suka sepak bola tidak seperti sekarang aku suka. Dulu, aku suka bola karena begitu konyolnya 22 pria dewasa berebut bola dengan kaki masing-masing, sekaligus mengajarkan banyak hal." katanya berusaha menjelaskan. "tapi..." katanya lagi. "sejak setahun lalu, aku tau sepak bola lebih dari sekedar itu. Sepak bola mampu menyatukan banyak hal, seperti ia menyatukan kita. Iya kan?" kata Jula yang tersenyum menutup kalimat terakhirnya sambil menunggu senyum Ve.

Kali ini, Ve dibuatnya senyum lagi. Tanpa kalimat tambahan yang menunjukkan ketidakpuasannya mendapat jawaban.

Hal apa yang lebih membahagiakan dari sebuah kebersamaan penuh kasih, konsisten pada komitmen, dan rasa suka untuk sama-sama saling memberi. Agaknya tidak ada yang mampu membayar hal semacam ini, jika harus terenggut suatu masa entah apa alasannya, sampai ternyata 'jarak' lah yang mampu membuat mereka kalah, pada akhirnya.

Ve masih tersenyum, saat itu, saat kepalanya berpikir; jika suatu saat kita gak lagi bersama, masihkah kamu pakai nomor punggung yang sama, atau akan kamu berikan ke siapa angka satu yang tadinya buatku? Jika suatu saat kita gak lagi bersama, masihkah kamu cinta sepak bola, atau sepak bola akan tetap berpihak padamu, menyatukan kamu dengan orang lain?


*****


Setelah lima tahun lewat sejak masa itu, setelah empat musim akhirnya Ve menang, berhenti dari kegiatan sia-sia yang membuang waktu hanya untuk mengalihkannya dan mencari hal lain untuk memenuhi kepalanya, setelah tiga tahun belakangan tidak ada lagi kapten dihatinya. Saat ini ia sadar, mungkin seorang jendral lah yang hanya butuh waktu sekian jam untuk menguasai hatinya sekarang. Ia tau kini, sepak bola berpihak padanya. Sepak bola mampu menyatukan banyak hal, termasuk menyatukan ia dan sosok yang memenuhi hatinya sekarang.


Published with Blogger-droid v2.0.1

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar