market value, aku, kamu, jendral, dan standar deviasi

aku kalah bukan sebelum aku mulai angkat senjata. aku kalah bukan karena tidak tepat menganalisis berapa market value sebenarnya saat itu. percayalah karena sudah darisananya preposisi tercipta bukan dari teori yang kuat. pun ternyata, segumpal darah ini ternyata tidak lebih kuat dari teori yang mendukung preposisi. adalah ini, pengorbanan terakhir? tidak. akan selalu ada pengorbanan disaat bersamaan saraf motorikku masih mampu memberi perintah pada jasad.

ini bukan masalah overvalue. aku tau benar berapa besaran market value nya. ini masalah lain. jadi jangan bilang aku kalah karena salah analisis.

hei, aku investor jangka panjang. aku suka dengan analisis fundamental, bukan sekedar melakukan hal (mirip) gharar layaknya analisis teknikal. aku tau bagaimana rumusnya, aku tau darimana aku harus mulai menghitung dan aku bisa dengan tepat mengetahui berapa nilainya. perlukah aku sadarkan, bahwa dari sisi aset saja, sudah begitu jauh? sekalipun sama besarnya, tentu jelas terlihat ada perbedaan proporsi elemen likuidnya. jadi jangan lagi bilang aku salah ya?

kalau Reeza, teman kami yang tempramen dan hoby bikin coach marah masih ada, pasti aku tarik dia ke arahmu. kamu harus tau tentang teorinya yang mengatakan, hidup adalah tentang menjemput bola, bukan nunggu dioper! begitu dia selalu bilang, dengan cara yang sama, dengan yakin seolah tidak ada teori lain yang mampu mematahkan teorinya. dan mereka, teman satu tim, percaya dengan teorinya. aku rasa hanya ini hal satu-satunya yang membuat coach bangga padanya, karena selalu mampu mensugesti teman satu tim.

dan, tentang investasi jangka panjang ini. tidaklah ringan resiko yang aku ambil, yang kami hadapi, tapi aku berharap akan ada high return dibaliknya. sekali lagi, aku tidak overvalue, aku tau dengan tepat. jadi jangan bilang aku salah, atau tetap khawatir tentang ini. resiko ini, semua perlu tau. aku bukan Fatimah, aku tidak sebaik dirinya, dan aku tidak sedang menghadapi Rasul. beliau seorang Jendral bagi kami, bukan Rasul. jadi mungkin butuh setidaknya menjadi Jendral juga untuk dapat menaklukkannya.

resiko hanya standar deviasi. adalah sebuah penyimpangan yang mungkin terjadi dari sesuatu yang diharapkan. kalau penyimpangan bisa terjadi ke arah yang lebih buruk, maka bukan tak mungkin bisa menyimpang ke arah yang lebih bagus. kami hanya perlu meng-exercise-nya dengan baik, seperti saat para miliarder meng-exercise kontrak future dan forward mereka.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar