cokelat

Aku suka cokelat. Dan saat ini, aku menginginkan rasanya yang enak meski rupanya berwarna cokelat, meski bentuknya tak semenarik lukisan dan tak secantik bunga mawar. Tapi sekarang aku menginginkannya demi hatiku. Aku ingin merasakan manisnya. Aku ingin merasakan lembutnya. Aku ingin merasakan ketenangan karena memakannya. Demi hatiku. Demi hatiku yang mungkin rupanya tak semenarik bulan sabit, meski mungkin sekarang berantakan yang aku pun tak tahu apa alasannya. Dan aku butuh cokelat saat ini.
Aku enggan mendengarkan dua orang penyiar radio yang biasanya tiap pagi menemani persiapan kegiatanku. Aku enggan menyalakan televisi yang biasanya jadi temanku siang hari di kamar. Aku juga enggan bermain-main dengan mpie (komputerku) yang biasanya aku betah bersamanya saat weekend. Aku enggan minum susu banyak yang biasanya tiap hari aku konsumsi. Aku enggan menyapa tazie yang biasanya tiap aku terbangun dari tidur pasti aku peluk. Aku enggan merapikan photo-photo di dinding kamar yang biasanya butuh waktu lama aku untuk melakukannya. Aku juga bahkan enggan menyalakan vcd totti, yang biasanya paling tidak seminggu sekali harus aku menontonnya. Aku enggan melakukan semua itu. Karena aku hanya ingin cokelat.
Lalu siapa yang bisa datang sekarang.
Sekarang.
Untuk membawakan aku cokelat.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar