ingin bisa sepertimu

Suatu pagy dan dg kedamaian'y,hingga akhir'y menciptakan keadaan yg nyaman,lalu timbulah obrolan antara dua orang manusia yaitu ayah dan anak.entah sudah berapa ribu kali mereka menciptakan suasana conversation yg membuat kedua'y merasa betah untuk berlama-lama hanyut dalam arus obrolan.meski kadang lebih mirip obrolan antar teman,antar partner kerja yg memperdebatkan suatu topik,bahkan antar cowok sekalipun.
Ya,ya,mereka memang nyaman dengan obrolan dua arah seperti itu.seorang ayah yg memiliki pikiran luas dan karakter yg membangun.dan seorang anak kandung'y yg memiliki karakter sebagai teman bicara dan partner diskusi.
Menceriterakan banyak hal,hingga akhir'y sang ayah berkata, "apa pun yg terjadi,jangan sampai kita membenci orang.biar pun orang lain mungkin ada yg benci kita.tapi kebencian seperti apa pun jangan d balas dengan kebencian."
Sang anak lalu terdiam.mendengar kalimat ayah'y yg seolah meremukkan jantung,melumpuhkan otak karena berpikir keras dan bertanya dalam hati, "yg d depan gw,yg daritadi ngobrol sama gw,dy ayah gw atau malaikat?bagaimana bisa seorang manusia yg bukan nabi,bukan rasul,memilih untuk tidak membenci siapa pun walau apa yg terjadi.dan dy mengatakan itu sama gw.berharap gw bisa seperti itu."
Lidah anak itu membeku.dan sementara ayah'y terus melanjutkan kalimat'y,ia pun terus berkata dalam hati, "god,gimana bisa gw punya ayah yg berhati mulia seperti ini?dy terlalu sempurna untuk jadi ayah gw."
Ayah terus melanjutkan kalimat'y meski ia tak tau apa yg ada d pikiran sang anak.merasa slama ini adalah manusia jahat dan sombong,merasa perlu minta maaf pada banyak pihak,merasa kagum akan hati ayah'y,dan yg pasti,merasa bangga karena memiliki ayah sehebat itu.
Ia tak lagy tau apa yg ayah'y katakan,hingga akhir'y, "yah gitu,pesan ayah,jangan lah kita benci sama orang."
Yaa,kalimat trakhir ayah'y itu lalu membuat'y ingin membalas dengan suatu ucapan.tapi untung'y otak'y segera waras dan menahan lidah'y tetap membeku.hingga hanya hati'y yg sanggup berkata lirih, "maaf ayah,tapi aku tidak bisa untuk tidak membenci orang yg menjahatimu itu.aku masih membenci'y."


Setengah jam kemudian setelah mereka akhiri obrolan tersebut,sang anak masih berpikir,bagaimana bisa ia tidak membenci orang yg nyata telah menjahati'y.tapi lalu ia tersenyum dan mengucap syukur pada tuhan karena ia merupakan darah daging dari seorang ayah yg mulia hati'y dan tentu'y juga seorang ibu yg lembut hati'y.

0 komentar pembaca:

Poskan Komentar