plagiator awards

Kadang, gw gak ngerti sama orang yang gak maw jd diri sendiri. Gw gak ngerti kenapa malah dia ingin seperti orang lain. Tidakkah dia pernah dengar bahwa yang terbaik adalah menjadi diri sendiri. Jadi gak perlu kaan ikut-ikut apa kata orang, ataw yang lebih parahnya, ikut-ikutan orang lain buat begini dan begitu.
Belom lagi buat orang yang diikutin. Kalo dia gak ikhlas gimana? Lagian jugaa pasti bete laa kalo diikut-ikutin gituu. Hahahaa.
Ada gak yaa, plagiator awards!!

kalau memang bisa

Kalau ingin merebut aku dari ayah ibuku, dapatkah dia menjadi perhatian seperti mereka..
Kalau ingin menggantikan peran ayahku, dapatkah dia menjadi lembut seperti beliau..
Kalau ingin mengambil aku dari keluargaku, dapatkah dia membimbing dan menjagaku..
Kalau ingin dipercayai sahabatku, dapatkah dia memahami aku..

Bukan aku ragu
Sama sekali bukan
Tapi tentu karena aku ingin hanya sekali saja seumur hidupku
Mengertilah
.

yang berbeda hanya prinsip

Demi aku yang tak pernah mau mengalah
Yang akan dengan segenap hati pertahankan egoistis
Yang akan selalu memaksa teriakkan “terserah aku!”

Demi kamu yang juga tak pernah mau mengalah
Yang akan dengan sepenuh hati pertahankan egoistis
Yang akan selalu memaksa teriakkan “terserah aku!”

Lalu kelak
Pada hari terjadinya yang tak pernah kita tau
Akan kita sadari bahwa tak mungkin
Menyatukan dua makhluk yang memang sudah sama!

Jika mereka berkata : “perbedaan itu indah”
Ternyata aku sadar bahwa persamaan tak selamanya indah
Jika seperti kita adanya!
Sama-sama gak mau ngalah, sama-sama egois

Dan terus saja berusaha!!
Karena ternyata juga kita sama-sama tak kenal lelah



:dzuhur,25-11-2009:

aku ingin

Aku hanya ingin jadi pintar.
Aku hanya ingin jadi cerdas.
Entah apa yang kalian katakan, kalian pikir aku peduli?

m y l i v e

Tiba-tiba teringat saat dulu ayah mengajarkan kalbatakur (kali bagi tambah kurang) untuk mata pelajaran matematika saat aku duduk dibangku sekolah dasar. Caranya mengajarkan, kedekatan kami, semangatnya mengajari dan semangatku karena ingin bisa. Aku pernah menangis karena tak bisa menjawab soal yang ayah beri. Tapi apakah ayah marah? Tidak sama sekali. Lalu aku teringat, selama umur dihidupku, apa pernah ayah memarahi aku? Tidak pernah sama sekali. Yang aku katakan bahwa ayah memarahi aku, itu adalah menasehati aku untuk menjadikanku lebih baik. Dan aku berjanji akan selalu mencintainya.
Tiba-tiba teringat saat dulu ibu menyuruhku (dengan setengah memaksa) untuk tetap berangkat sekolah madrasah setiap aku pulang dari sekolah (SD). Caranya merayu, menyemangati aku untuk rajin mengaji, dan menyampaikan maksudnya bahwa ia ingin aku jadi anak pintar. Aku juga pernah menangis karena merasa lelah sepulang sekolah. Aku ingin bermain bersama teman-teman lain. Tapi ibu bilang aku harus pergi, agar aku jadi anak pintar. Ibu bilang aku pasti boleh bermain selesai tadarusan nanti. Dan aku sering merengek untuk tak pergi. Tapi apakah ibu memarahi aku? Tidak sama sekali. Lalu aku teringat, selama umur hidupku, apa pernah ibu memarahi aku? Tidak pernah sama sekali. Yang aku katakan bahwa ibu memarahi aku, itu adalah membimbing aku untuk menjadikanku lebih baik. Dan aku berjanji akan selalu mencintainya.
Saat ini, saat aku jauh dari mereka. Aku harus terus belajar, karena aku tau keinginan mereka yang dulu masih juga sama. Ingin aku jadi yang terbaik. Dan aku tau ada doa disetiap gerak kelopak mata mereka. Ada harapan disetiap hembusan nafas mereka. Dan selalu ada aku dihati mereka.

saat memang harus terjadi

kalau aku mencari ketampanan, tentu tak akan pernah aku puas. tentu akan selalu lagi dan lagi aku mencari. tentu tak dapat aku berdiam menunggu kamu meski tak tau kapan datang menjemputku dari kota ini.
tapi aku tak pernah bisa untuk hal itu.
aku hanya mencari segumpal darah yang baik kualitasnya. yang jika segumpal darah itu baik, maka akan baik seluruh dirinya. yang menjadi santun tutur katanya. yang lembut sikapnya (hey, ini gw yang gak pernah maw dikasarin, sory gw tumbuh dalam kelembutan meski gw bisa hidup keras).
dan aku tau ayah benar saat berkata; "tak berguna ilmu kita jika selalu dalam sikap yang tak baik" . lalu aku tau, aku harus bisa sepertinya.
dan saat ini jawabannya adalah,
aku mencari yang seperti beliau. karena bukankah calonku kelak adalah pengganti beliau?

tak tau lah

karena aku mungkin memang tak pantas bagimu.
meski aku,
selalu tulus selama ini
berusaha menyampingkan urusan yang tak pernah kau suka.

tapi ini aku!!

sejak kapan,
aku mulai menurut akan kata-kata orang lain selain ayahku.
sejak kapan,
aku mulai menjaga seluruh aktivitasku.
sejak kapan,
aku mulai jadi sering menangis karena sesuatu yang aku tak tahu.
sejak kapan,
aku mulai mematri suatu nama yang sebenarnya dulu berusaha aku untuk menahannya.

dan kini aku.
mampu engkau rubah hingga begini.

dan akhirnya

ini.
memang sungguh hanya ini.
yang selalu aku takutkan.
hanya sesuatu ini.
yang sejak dulu bersarang di kepalaku.
dan hanya ini.
sesuatu yang menggerogoti waktuku.
membuat berpikir hingga aku nyaris mati karena takut.

dan lagi-lagi ini.
hal inilah yang tak pernah membuatku berhenti.
yang membuatku terus berdiri.
ketakutan!!

tapi pada akhirnya toh memang harus terjadi.
kita gak akan bersama lagi.

tapi.

masih ada setets penawar.
untuk hati yang kini tinggal kepingan.
untuk otak yang kini hampir busuk.
untuk raga yang kini merasa kehilangan tulang rusuknya.
untuk jiwa yang nantinya pasti akan merindu.

beruntunglah.
aku masih memiliki setetes penawar itu.
yang merupakan keyakinan sejak awal.
bahwa tak akan ada yang abadi.
tentu aku harus siap kehilangan segala titipan tuhan.

dan.
suatu saat kita pasti bertemu "lagi".

memahami maknanya. tidak selalu secara bahasa

Kehilangan?
Kapan? Apa aku pernah kehilangan?
Waktu tidak berhasil menemukan pinsil dalam kotak alat tulisku? Waktu musuhan sama salah satu teman? Atau waktu allah menyuruh malaikat izroil untuk menjemput orang yang aku sayang?
Tidak!! Sama sekali bukan!
Aku tidak pernah kehilangan semua itu. Karena aku tidak pernah memilikinya kaan. Yaa, semua milik allah. Dan pasti akan kembali pada allah. Hanya saja aku tak pernah tahu waktunya.

Allah, maafin aku yang juga belum bisa berpikir dewasa. Maafin aku yang terus-terusan hanya bisa marah. Maafin aku selalu ngeluh dan sering kali bersikap tidak baik. Yaa, mereka milikmu, allah. Trimakasih pernah titipkan mereka pada kami. Dan maafkan kami jika sempat tidak menjaganya dengan baik, tapi sungguh kau maha mengetahui segala peristiwa. Kami hanya makhluk yang berbatas. Tak dapat menembus tempat dan waktu.
Sekarang, meski mereka, orang yang kami sayangi, telah kau ambil.. aku ikhlas, insyaallah.
Maafin aku atas airmataku kemarin dan hari ini. Karena sungguh tak tau lagi aku harus bagaimana saat aku mengetahui kau telah mengambilnya. Saat aku tau malaikat izroil telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Meski kini sungguh aku sadar, itu pasti yang terbaik. Tapi bukankah engkau telah menciptakan kelenjar airmata yang bertugas memproduksi airmata? Maka kelenjar itu kini melaksanakan tugasnya dengan baik pula.
Allah, jika hari-hari kemarin aku memohon untuk mereka dapat menyaksikan aku pakai toga disuatu hari, maka hari ini aku mohon ampuni dosa-dosanya. Trimalah di sisimu, allah.. terima amal ibadahnya,. Dan sungguh, aku mohon ampuni dosanya. Lapangkan kuburnya, terangi ia di dalam sana. Beri ia tempat yang terbaik, ringankan siksanya.
Amin..

sepenggal dari sebagian (sebagian dari sepenuhnya)

Sambu : kenapa sih Ve, kenapa lu cuma bisa nangis!
Veka : karena gw gak sekuat yang lu bayangin, Sam..
Sambu : lu kuat. Itu bukan sesuatu yang gw bayangin, Ve! Tapi sesuatu yang gw lihat dari dalam diri lu. Jadi lu nangis bukan karena lu lemah, Ve. Sama sekali bukan.
Veka : kalo lu mau nyuruh gw buat kuat, kalo lu mau menghibur gw, pliz jangan sekarang Sam..
Sambu : lu lemah karena lu yang membayangkannya, Ve. Gw tau lu gak kayak gitu. Pliz Ve.. sebelumnya lu mengakui milik allah adalah milik lu, sampe-sampe lu ngerasa sakit sekarang waktu allah ambil kembali miliknya.
Veka : apa lu gak tau kalo gw sayang nenek gw, Sam!! Apa lu gak ngerti gimana rasanya waktu tau salah satu orang yang jadi alesan gw buat semangat sekolah, sekarang udah gak ada! Udah gak bisa gw lihat lagi. Gak bisa gw datengin meski setahun hanya satu kali. Gak bisa gw cium tangannya lagi. Gak bisa gw sentuh kulitnya meski telah keriput dimakan umur.
Sambu : dan apa lu tau, Ve.. ada berapa banyak orang disana yang ikutan sedih karena melihat lu seperti ini..
Veka : (masih terisak dalam tangisnya)
Sambu : dan apa lu akan terus-terusan egois seperti ini, Ve? Lu boleh nangis kalo emang bikin lu jadi lebih lega. Tapi jangan nangis untuk berlarut kayak gini. Jangan nangis yang bikin lu lega tapi justru bikin orang lain jadi sedih.
Veka : (tetap tak menjawab sahabatnya)
Sambu : brenti nangis, Ve.. pliz.. kalo lu gak mau peduliin diri lu, pliz lakuin ini buat gw. Lakuin buat gw, sahabat yang lu sayang.

kain itu

Aku memperhatikan matanya. Berusaha bisa seperti beliau. Tegar dan kuat. Aku terus memandangi matanya. Berharap tak temukan sesuatu yang lain dihadapanku. Tapi kenyataan. Ini kenyataan, bukan mimpi. Aku melihatnya. Mendapatinya tengah terbaring tanpa nyawa.
Lalu ayah pun mendekatinya. Aku terus mengikuti geraknya. Ingin slalu disampingnya, dengan harapan aku bisa tegar seperti ayah meski nyatanya aku melakukannya sambil terus menangis. Berbeda sekali dengan ayah. Tangan ayah bergerak, membuka kain hijau yang mengurungi keranda. Dan yang terlihat hanya sosok yang terlapisi kain putih. Ayah tak bersuara, sama sekali. Aku pun tetap diam, kecuali isak tangis yang tak dapat disembunyikan, dan genggaman eratku pada adikku.
Ayah terus bergerak, membuka kain putih itu pada bagian atas. Dalam hitungan detik, kini nampak wajah yang tenang tanpa pikiran dan beban. Begitu bersih, dan sekali lagi, tampak sangaaaat tenang. Isak tangisku berhenti. Yaa, berhenti, aku ingat betul saat itu isak tangisku berhenti.
“uda ya?” suara ayah tenang pada kami bermaksud ingin menutup kembali kain putih itu. Kami tetap diam. “udah ya? Udah ikhlas?” kata ayah lagi dan kali ini aku sadar aku harus menjawabnya.
“iyah..” jawab adikku. Tapi aku tetap diam. Sedihku perlahan memudar. Tapi kini segera diganti dengan kesedihan yang lain saat aku melihat ayah. Ayah bertanya kami sudah ikhlas tow belum, tapi ingin aku balik bertanya, apa ayah memang sudah ikhlas, ataw sedang berusaha ikhlas dengan bertanya pada kami.
“udah yaa..” suara ayah lagi, kali itu sambil menutup kembali kain putih yang memang seharusnya pada tempatnya.
Aku.
Menangis lagi.